NADIKABAR.COM — Guncangan gempa berkekuatan magnitudo 7,7 masih menyisakan rasa trauma mendalam bagi sejumlah nelayan di Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Desa tersebut sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai nelayan. Setelah guncangan dahsyat pada Sabtu (15/8/2026) lalu, hingga saat ini nelayan setempat belum berani melaut.

"Sudah tiga minggu ini kami belum berani melaut karena masih trauma," ujar salah satu nelayan, Alman Saman (38), saat ditemui di Desa Nangadhero, Minggu (6/9/2026).

Alman menuturkan sebelum kejadian gempa, ia tak kekurangan uang karena setiap kali melaut, hasil tangkapannya lumayan untuk dijual dan sisanya untuk kebutuhan di rumahnya.

Namun, saat ini ia mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Beruntung mereka masih mendapatkan sembako beserta kebutuhan utama lainnya dari pemerintah, polisi, relawan dan gereja.

"Sekarang ini kami hanya bergantung pada bantuan pemerintah, relawan dan gereja. Syukur bisa dapat makanan dan minuman," tutur Alman.

Menurut Alman, setiap kali pulang melaut, hasil jualan ikannya lebih dari Rp 200 ribu setiap hari. Bagi Alman, pendapatan tersebut sangat mencukupi kebutuhan hidup istri dan seorang anak balitanya.

Di lain sisi, ia sangat khawatir bila kebutuhan dadakan dari keluarganya. Namun, rasa trauma dalam dirinya belum benar-benar pulih, tetapi kerinduan kembali melaut adalah impian utamanya selama beberapa hari terakhir ini.