NADIKABAR.COM — Gencatan senjata lokal yang dimediasi oleh Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump, dengan keterlibatan Paus Leo XIX, bertujuan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Oleshky serta memungkinkan warga yang ingin meninggalkan kota itu untuk mengungsi.
Sejumlah warga mengatakan mereka bertahan hidup hanya dengan mengonsumsi secangkir nasi atau soba setiap harinya, terkadang ditambah tomat, mentimun, atau tanaman liar.
Rusia dan Ukraina sama-sama menyatakan mematuhi gencatan senjata lokal di sekitar kota garis depan tersebut. Kesepakatan itu mulai berlaku pukul 03.00 waktu Ukraina (01.00 GMT) sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat yang tersendat-sendat untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina. Gencatan senjata tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 1 November.
Gencatan senjata ini tidak berlaku di wilayah lain. Pasukan Rusia kembali menghujani ibu kota Ukraina, Kyiv, dengan rudal balistik dalam serangan semalam yang menewaskan sedikitnya satu orang, menurut pejabat setempat
Warga Kyiv berharap gencatan senjata di Oleshky akhirnya dapat meringankan penderitaan penduduk setempat. Namun, harapan itu dibayangi kekhawatiran bahwa Rusia tidak akan mematuhi ketentuan kesepakatan tersebut.
"Saya ingin berharap bahwa semuanya benar-benar akan berjalan seperti ini, bahwa kesepakatan itu sungguh-sungguh dilaksanakan dan pihak Rusia akan menepati janjinya," kata Olha Haiduk, yang berumur 59 tahun, kepada Reuters.
David Arakhamia, ketua faksi partai Presiden Volodymyr Zelenskyy di parlemen Ukraina, menyebut kesepakatan itu sebagai "deeskalasi terbesar sejak 2022".
Oleshky terletak di tepi timur Sungai Dnipro, di wilayah Kherson, selatan Ukraina, berseberangan dengan Kota Kherson yang dikuasai pasukan Ukraina. Pasukan Rusia merebut Oleshky pada hari-hari pertama invasi skala penuh mereka ke Ukraina pada Februari 2022 dan sejak itu terus menguasai kota tersebut.
Oleshky mengalami kerusakan parah akibat perang dan terdampak hebat oleh banjir setelah Bendungan Kakhovka di dekatnya hancur pada 2023.
Amerika Serikat menyatakan bahwa hanya beberapa ribu orang yang masih bertahan di kota itu, dibandingkan dengan populasi sebelum perang yang mencapai 24.000 jiwa. Warga dan pejabat melaporkan kekurangan parah makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Sebagian besar wilayah Oleshky juga terputus dari pasokan air bersih, listrik, gas, dan pemanas sentral.
Sejumlah warga menceritakan pengalaman mengerikan ketika mereka mempertaruhkan nyawa dengan melintasi jalan-jalan yang dipenuhi ranjau hanya untuk mendapatkan makanan dan air. Salah satu jalur tersebut mereka juluki sebagai "jalan kematian".
Pejabat Ukraina dan Rusia menyatakan bahwa koridor kemanusiaan akan dibuka untuk memungkinkan pengiriman bantuan serta perpindahan warga. Upaya ini diperkirakan mencakup pembersihan ranjau dari jalan-jalan dan dapat memakan waktu beberapa hari.
Seorang warga yang berhasil melarikan diri dari Oleshky mengatakan kepada Reuters bahwa banyak orang yang masih bertahan di kota itu merupakan warga sakit atau lanjut usia sehingga akan kesulitan untuk pindah ke tempat lain.
Ukraina dan Rusia saling menyalahkan atas krisis kemanusiaan di Oleshky. Drone menjadi ancaman terbesar bagi keselamatan warga sipil, sementara lokasi kota tersebut berada dalam jangkauan mudah pesawat nirawak milik kedua belah pihak.
Utusan Gedung Putih telah berkomunikasi dengan kedua pihak dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat untuk menengahi berakhirnya konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Zelenskyy mengatakan pekan lalu bahwa perundingan tiga pihak akan dilanjutkan di Abu Dhabi pada awal November. Kemajuan pasukan Rusia di medan perang melambat tahun ini. Namun, Moskow menyatakan bahwa Kyiv harus menyerahkan sisa 20% wilayah Donetsk di timur Ukraina yang masih dikuasainya sebelum pasukan Rusia menghentikan pertempuran.
Serangan Rusia semalam merusak kompleks kampus sebuah universitas dan Jembatan Selatan Kyiv, infrastruktur penting yang menurut Zelenskyy menunjukkan "eskalasi serius" terhadap jalur logistik Ukraina. Seorang sumber militer Ukraina mengatakan jembatan tersebut dihantam empat rudal balistik Iskander.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa pihaknya telah menyerang infrastruktur transportasi di Kyiv, sebuah pusat logistik di wilayah Kharkiv, serta fasilitas industri dan kapal kargo dalam serangan yang diklaim menargetkan sasaran militer.
Di Rusia, serangan drone menewaskan satu orang di Kota Bryansk, wilayah barat yang terletak dekat perbatasan Ukraina, deimkian menurut pihak berwenang.
Sementara itu, serangan terhadap sebuah bus di bagian wilayah Zaporizhzhia, Ukraina, yang dikuasai Rusia, menewaskan satu orang dan melukai 30 lainnya, demikian menurut pejabat setempat.
Pemimpin Norwegia dan Finlandia melakukan percakapan telepon dengan Vladimir Putin pada hari Selasa (27/10). Ini merupakan komunikasi telepon pertama antara para pemimpin Eropa yang mendukung Ukraina dan presiden Rusia tersebut dalam lebih dari satu tahun.
Membela langkah untuk membuka komunikasi dengan pemimpin Kremlin tersebut, Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store menyatakan dalam pernyataan bersama bahwa "mengakhiri perang membutuhkan pembicaraan langsung".
"Kami menekankan pentingnya deeskalasi," kata Store. Stubb menggambarkan pembicaraan antara ketiga pemimpin itu sebagai diskusi yang "terus terang dan substantif".
Percakapan tersebut menjadi komunikasi langsung pertama antara Putin dan sekutu utama Ukraina di Eropa sejak Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dengannya pada Juli 2025.
Menurut Kremlin, Putin memanfaatkan kesempatan itu untuk melontarkan kritik keras terhadap Barat. "Perhatian diarahkan pada kebijakan konfrontatif negara-negara Uni Eropa dan NATO, yang menyebabkan permusuhan berlangsung semakin lama," demikian pernyataan Kremlin mengenai pembicaraan tersebut.
Namun, Moskow menyatakan bahwa ketiga pemimpin itu telah "sepakat untuk terus menjaga komunikasi langsung melalui telepon".
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang berbicara dengan kedua pemimpin negara Nordik tersebut setelah percakapan mereka dengan Putin, mengatakan melalui media sosial bahwa mereka telah "menegaskan kepada pemimpin Rusia itu bahwa langkah-langkah nyata untuk meredakan ketegangan diperlukan, terutama terkait sektor energi dan infrastruktur kami".