NADIKABAR.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten terus mematangkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana alam, mulai dari erupsi Gunung Merapi hingga gempa bumi. Upaya mitigasi ini turut dibarengi dengan rencana simulasi kedaruratan berskala besar pada akhir September mendatang.

Langkah preventif tersebut dibahas mendalam melalui sosialisasi lintas sektor di Pendopo Pemkab Klaten, Rabu (9/9). Rapat koordinasi ini melibatkan jajaran Forkopimda, BMKG, Basarnas, TNI-Polri, hingga ratusan relawan. Seluruh pihak duduk bersama menyamakan persepsi terkait ragam potensi bencana di wilayahnya.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyoroti kondisi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang banyak memicu kekeringan dan kebakaran lahan. Aktivitas vulkanik sejumlah gunung berapi di Indonesia belakangan ini juga diakui menjadi peringatan keras bagi wilayahnya.

"Kita tahu hari ini musim kemarau yang panjang, terjadi kebakaran dan kekeringan di beberapa tempat," ujar Hamenang pada keterangan tertulisnya, Kamis (10/9/2026).

Kondisi rawan ini, menurutnya, diperparah dengan letusan beberapa gunung berapi di Pulau Jawa hingga Sumatera. Pemkab Klaten lantas menaruh perhatian ekstra pada pergerakan Sesar Opak yang masih aktif membentang di wilayahnya.

Ancaman pergeseran lempeng tersebut memaksa pemerintah daerah menyusun strategi mitigasi secara terukur dan berkelanjutan. Kesiapsiagaan mutlak dibutuhkan mengingat waktu datangnya musibah sama sekali tidak bisa diprediksi secara presisi.

Oleh karena itu, Pemkab Klaten bersiap menguji ketangkasan aparat dan relawannya langsung di lapangan lewat rangkaian simulasi. Rangkaian simulasi sistem penanggulangan darurat tersebut akan digeber selama tiga hari beruntun.

"Tanggal 21, 22, 23 (September) kita akan adakan simulasi bencana, sehingga harapannya kita siap siaga," tegas Hamenang.

Kerja keras membangun sistem kesiapsiagaan ini rupanya berbuah manis bagi Kabupaten Klaten. Daerah ini diumumkan sukses menempati peringkat pertama se-Provinsi Jawa Tengah dalam aspek mitigasi dan penanggulangan bencana.

Prestasi membanggakan tersebut dinilai sebagai hasil nyata dari kekompakan Forkopimda, BPBD, dan seluruh elemen masyarakat.

"Ini alhamdulillah bukti kolaborasi luar biasa. Rekan-rekan relawan selalu guyub, kompak, dan kita selalu bersama-sama meningkatkan kompetensi," paparnya.

Meski berhasil menjadi yang terbaik di Jawa Tengah, Hamenang melarang seluruh jajarannya untuk cepat berpuas diri. Evaluasi dan pertemuan rutin dituntut terus berjalan guna menekan risiko kerugian dan meminimalisir jatuhnya korban jiwa di masa depan.