"Ke depan kita harus memanfaatkan seluruh fasilitas yang dimiliki tidak hanya oleh Pemerintah pusat, Pemerintah daerah, tetapi juga kalangan industri," tegas Jubir Haryo.

Selain meningkatkan kesiapan tenaga kerja, pengembangan sektor pariwisata menjadi bagian penting dalam memperluas aktivitas ekonomi dan membuka peluang usaha di berbagai daerah. Pariwisata memiliki keterkaitan dengan beragam sektor, mulai dari transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, ekonomi kreatif, hingga usaha mikro dan kecil yang tumbuh di sekitar destinasi wisata.

Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan sekitar 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara. Sektor pariwisata menghasilkan devisa sebesar USD18,28 miliar, mendukung 25,91 juta lapangan kerja, serta berkontribusi langsung sebesar 3,97% terhadap produk domestik bruto (PDB). Nilai investasi sektor pariwisata pada tahun tersebut mencapai hingga Rp73,55 triliun.

Momentum positif berlanjut pada 2026. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,58 juta, meningkat 5,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta, tumbuh 4,29%. Devisa pariwisata pada semester I 2026 tercatat sebesar USD8,43 miliar, sementara investasi sektor pariwisata tumbuh 16,64%.

"Kita harus kejar pariwisata itu sebagai low hanging fruit. Dan itu juga penghasil devisa yang besar. Jadi seperti untuk mendukung pembelian di dalam negeri mari kita dorong juga sektor pariwisata," ungkap Jubir Haryo.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pengembangan pariwisata terus diiringi dengan peningkatan kualitas destinasi, konektivitas, kompetensi SDM, dan keterlibatan masyarakat lokal. Dengan demikian, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya tercermin dari pergerakan wisatawan dan penerimaan devisa, tetapi juga membuka ruang bagi usaha lokal untuk berkembang serta memperluas manfaat ekonomi di daerah.

Keberpihakan dan Pemberdayaan Masyarakat melalui KUR