Untuk diketahui, pada Rabu (19/8) Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dikeluarkan melalui Kori Kamandungan menuju Sitihinggil melewati alun-alun utara dan masuk ke Masjid Agung. Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng memimpin proses tersebut.

"Ada dua perangkat nggih, Guntur Madu dan Guntur Sari. Nah, ini memang sudah dipindah ke sini (Handrawina) dari tempat sana (Pendopo Parangkarso) karena di sana keadaannya sudah parah banget itu gedungnya dan itu termasuk apa, proyek revitalisasi nanti," katanya ditemui awak media di Sasana Handrawina, Rabu (19/8/2026).

Gusti Moeng menjelaskan gamelan-gamelan tersebut dikeluarkan dalam rangka sekaten atau menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Gamelan akan dibunyikan mulai hari ini hingga puncak Maulid Nabi.

"Dalam rangka Sekaten, nggih. Nanti mulai ditabuhkan jam setengah 2 siang. Terus kalau besok itu hanya sampai jam 3 sore karena kan malam Jumat. Kalau setelah Ashar itu, kalau Kamis malam, malam Jumat itu prei (libur), dan kalau nanti apa, Jumat itu habis Jumatan baru ditabuh," jelasnya.

"Dalam rangka Sekaten memperingati hari kelahiran Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang itu sudah sejak apa nggih, sejak Demak sudah ada itu. Nah kalau gamelan yang Demak itu malah ada di Cirebon, di Kanoman Cirebon, nggih," sambungnya.