NADIKABAR.COM — GREAT Institute mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 pada kisaran 5,3–5,6 persen seiring realisasi pertumbuhan ekonomi yang tercatat 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan III-2026.

Peneliti GREAT Institute Ani Asriyah dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen secara kumulatif pada Januari-September 2026 memberikan dasar optimisme terhadap prospek ekonomi hingga akhir tahun.

“Dengan pertumbuhan kumulatif hingga September sebesar 5,45 persen, GREAT Institute mempertahankan outlook pertumbuhan sepanjang 2026 pada kisaran 5,3–5,6 persen,” kata Ani.

Berdasarkan kalkulasi produk domestik bruto (PDB) harga konstan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2026 perlu mencapai sekitar 4,86 persen untuk memenuhi target tahunan 5,3 persen.

Sementara itu, untuk mencapai pertumbuhan 5,4 persen sepanjang 2026, ekonomi perlu tumbuh sekitar 5,25 persen pada triwulan IV.

Adapun target pertumbuhan 5,5 persen membutuhkan pertumbuhan sebesar 5,64 persen pada periode yang sama.

Untuk mencapai batas atas proyeksi sebesar 5,6 persen, ekonomi Indonesia perlu tumbuh sekitar 6,03 persen pada triwulan IV-2026.

“Dengan demikian, target pada kisaran bawah dan tengah outlook masih dapat dicapai tanpa akselerasi pertumbuhan yang terlalu besar, sementara pencapaian batas atas memerlukan penguatan ekonomi yang lebih tinggi pada akhir tahun,” ujar Ani.

Adapun Ani menilai capaian pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2026 memberikan momentum positif bagi perekonomian nasional, terutama melalui penguatan sektor industri pengolahan dan investasi.

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen pada triwulan III-2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II-2026 dan 5,04 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Realisasi tersebut juga melampaui konsensus 31 ekonom dan analis yang dihimpun Bloomberg sebesar 5,20 persen.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tumbuh 5,87 persen dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,20 poin persentase.

Sementara itu, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 2,62 poin persentase.

Meski demikian, GREAT Institute mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat perlu diikuti perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,04 persen, sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, sektor pertanian hanya tumbuh 0,46 persen pada triwulan III-2026.

GREAT Institute juga menyoroti inflasi kelompok pangan bergejolak pada Oktober yang mencapai 5,81 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi umum sebesar 3,23 persen.

“Angka yang tinggi akan lebih bermakna ketika masyarakat memperoleh pekerjaan yang lebih baik, harga pangan yang terjangkau, dan semakin banyak keluarga mampu naik menjadi kelas menengah,” ujar Ani.