Bank itu menegaskan bahwa serangan tersebut tidak berdampak pada aset nasabah, tetapi hanya menyebabkan keterlambatan pelaksanaan sejumlah transaksi transfer.

"Meskipun total nilai dana yang terdampak serangan tersebut masih dalam proses penilaian, jumlahnya sama sekali tidak cukup besar untuk mengganggu kekuatan keuangan maupun kesehatan keuangan Grup secara keseluruhan," ungkap bank tersebut.

Saluran televisi Prancis BFM TV melaporkan bahwa serangan siber tersebut kemungkinan melibatkan pencucian mata uang kripto senilai 133 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp18.640).