β€œDemand-driven-nya harus ada. Jadi ini yang menjadi tantangan. Kita punya banyak talenta bagus, tapi ternyata bukan itu yang dibutuhkan. Berarti kita harus lihat kebutuhan dari ekonomi, dari masyarakat kita itu apa. Jadi harus demand-driven,” kata Destry.

Di sisi lain, ia menyoroti minat generasi muda untuk menempuh pendidikan di bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics) yang relatif menurun. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja dengan talenta teknologi tinggi dan ketersediaannya.

Karena itu, menurutnya, menjadi tantangan bersama untuk memastikan tingginya kebutuhan industri terhadap tenaga kerja di bidang teknologi dapat diimbangi dengan ketersediaan talenta digital.

Selain meningkatkan jumlah dan kualitas talenta digital, Destry menekankan pentingnya Indonesia agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu menjadi produsen yang menciptakan teknologi yang berdampak nyata dan inklusif bagi masyarakat.

Destry menjelaskan, BI sendiri memiliki inisiatif pengembangan talenta digital melalui Program Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Program ini menjadi wadah untuk melakukan upskilling dan reskilling sumber daya manusia (SDM) digital yang dinilai semakin mendesak seiring dengan perkembangan inovasi dan teknologi yang berlangsung cepat.