Destry memandang, nilai-nilai tersebut semakin relevan untuk diterapkan dalam berbagai model bisnis, termasuk bisnis konvensional.

Ia mencontohkan bahwa di kawasan ASEAN, perhatian terhadap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah juga semakin meluas. Selain Malaysia, Destry menyebut Filipina dan Thailand kini turut mengembangkan sektor tersebut, terutama keuangan syariah secara agresif.

β€œIni tentu menjadi PR buat kita, karena kita sudah mempunyai basis yang kuat, tinggal bagaimana kita untuk bisa mendorong ke depan,” kata dia.

Dari sisi ekonomi syariah, merujuk catatan Kemenko Bidang Perekonomian, rantai nilai halal di dalam negeri tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Pertumbuhan tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, dari sisi keuangan syariah, penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 mencapai 7,7 miliar dolar AS di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik per Juni 2026.

Meski nilai penerbitan green sukuk di pasar domestik terbilang besar, Destry menilai porsinya masih relatif kecil dibandingkan dengan total penerbitan obligasi pemerintah. Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang untuk mengembangkan pasar keuangan syariah di Indonesia.