Destry juga menyoroti tingginya minat investor dari negara-negara nonmuslim terhadap instrumen tersebut, termasuk dari Amerika Serikat dan Eropa.
Menurutnya, minat tersebut antara lain didorong oleh karakteristik green sukuk yang mendukung pembiayaan berkelanjutan.
Selain itu, produk keuangan syariah dinilai memiliki daya tarik karena didukung aset dasar (underlying asset), sehingga berpotensi menawarkan stabilitas relatif bagi investor.
Melihat peluang tersebut, ia turut mendorong para pemangku kepentingan untuk memperluas variasi produk keuangan syariah guna memenuhi permintaan pasar yang dinilai masih kuat.
“Saya mengajak kepada para tokoh-tokoh, termasuk Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), mari kita bersama-sama merumuskan agar kita bisa menciptakan produk-produk keuangan syariah yang lebih bervariasi karena sebenarnya demand-nya itu strong sekali, permintaannya sangat banyak sekali,” kata Destry.