Dalam kesempatan itu, Herman Deru menekankan pentingnya pelayanan prima dan akurasi diagnosis oleh tenaga kesehatan. Menurutnya, kepercayaan pasien merupakan salah satu kunci utama dalam memberikan pelayanan kesehatan.
"Saya minta kepada para nakes berikan pelayanan sebaik-baiknya. Akurasi diagnosis harus benar. Jika akurasi keliru, inilah yang membuat pasien lebih memilih berobat ke luar negeri, bahkan ada yang memilih berobat ke dukun. Maka membangun kepercayaan (trust) pasien itu sangat penting," tuturnya.
Herman Deru juga mendorong adanya inovasi layanan jemput bola, seperti pemeriksaan mata yang dilakukan dengan menyasar sekolah. Menurutnya, pemeriksaan tersebut tidak hanya dilakukan di tingkat SMA, tetapi juga SMP hingga SD.
Sementara itu, Direktur RS Khusus Mata Binar dr. Lady Kovatiner menjelaskan bahwa pada tahun ini program tersebut mendapat alokasi dana CSR sebesar Rp350 juta. Kerja sama antara BSB dan RS Mata Binar sendiri telah terjalin sejak 2019.
"Operasi yang dilakukan tidak hanya katarak, kami juga menjalankan program penggaris, yaitu pemberian kacamata gratis ke sekolah-sekolah melalui screening," jelas Lady.