Antisipasi itu sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari, mulai pemetaan daerah rawan, kesiapan infrastruktur seperti waduk dan embung, saluran irigasi tersier dan sekunder, hingga kolaborasi.
Di Jateng, tercatat ada 242.826 hektare sawah tadah hujan dengan intervensi melalui irigasi perpompaan dan 530.748 hektare sawah irigasi yang diintervensi dengan jaringan irigasi tersier.
Selain itu, asuransi gagal panen untuk lahan pertanian yang terkena puso dan lainnya juga sudah disiapkan untuk melindungi 10 ribu hektare lahan pertanian dengan risiko puso atau gagal panen.
"Asuransi gagal panen untuk mem-'backup', jadi jangan sampai nanti kena puso, kena banjir, dan gagal panen. Itu nanti akan membantu masyarakat kita, khususnya para petani agar tetap mempunyai modal dasar," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jateng Defransisco Dasilva Tavares mengatakan beberapa daerah memang memiliki kearifan lokal terkait pertanian.