NADIKABAR.COM — Gunung Semeru kembali menjadi perhatian setelah delapan pendaki diduga menerobos masuk melalui jalur ilegal saat akses pendakian masih ditutup. Tujuh orang berhasil diamankan petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) pada Senin (7/9/2026).

Sementara satu pendaki lainnya sempat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan dan dievakuasi di kawasan Ampelgading, Kabupaten Malang, Rabu (9/9/2026). Kasus ini sekaligus mengingatkan bahwa larangan mendaki Gunung Semeru bukan sekadar persoalan administrasi atau izin masuk kawasan.

Gunung Semeru merupakan gunung api aktif dengan medan pendakian berat dan kondisi yang dapat berubah cepat. Terlebih saat ini jalur pendakiannya masih ditutup total akibat kebakaran hutan di Blok Ranu Kembang. Lantas, kenapa Gunung Semeru tidak boleh didaki sembarangan?

Larangan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan kombinasi beberapa faktor, yaitu status Semeru sebagai gunung api aktif, kondisi medan, perubahan cuaca, kemampuan fisik pendaki, serta situasi kawasan yang sewaktu-waktu dapat berubah.

Karena itu, aturan pendakian bukan dibuat untuk sekadar membatasi orang yang ingin mencapai puncak Mahameru. Ada pertimbangan keselamatan yang mendasarinya. Berikut beberapa alasan Gunung Semeru tidak boleh didaki sembarangan.

Gunung Semeru bukan sekadar destinasi pendakian dengan medan yang berat. Gunung Semeru merupakan gunung api aktif yang aktivitasnya terus dipantau oleh otoritas terkait.

Kondisi vulkanik membuat risiko di kawasan puncak tidak bisa disamakan dengan pendakian gunung biasa. Aktivitas erupsi, lontaran material, awan panas, gas vulkanik, maupun bahaya lain dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan area yang aman untuk dikunjungi.

Oleh karena itu, status pembukaan jalur dan batas aman pendakian harus mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari pengelola kawasan dan otoritas pemantauan gunung api.

Sebagai contoh, Badan Geologi menetapkan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius tertentu dari kawah/puncak Gunung Semeru serta mewaspadai potensi bahaya vulkanik.

Besaran radius aman tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas gunung, sehingga pendaki tidak seharusnya menggunakan angka lama sebagai patokan tetap.

Inilah salah satu alasan mengapa pendakian Gunung Semeru tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan keputusan pribadi. Ketika pengelola menyatakan kawasan ditutup atau membatasi area tertentu, keputusan tersebut harus dipatuhi.

Selain aktivitas vulkanik, kondisi medan juga menjadi tantangan tersendiri. Jalur pendakian Gunung Semeru membutuhkan daya tahan fisik yang baik karena perjalanan menuju kawasan tinggi berlangsung dalam waktu yang tidak singkat.