Sayangnya, konsekuensi dari kegagalan kemampuan membaca sebelum masa transisi tersebut sangat ekstrem. Siswa yang tidak dapat membaca dengan mahir pada kelas tiga, empat kali lebih mungkin putus sekolah menengah atas daripada mereka yang punya kemampuan literasi baik.

Dan bukan hanya itu, pembaca yang baik terus meningkat, sedangkan pembaca yang buruk terus berjuang untuk bisa membaca. Hal ini semakin memperluas kesenjangan prestasi seiring bertambahnya usia siswa.

Dampak ini juga meluas melampaui ruang kelas. Siswa-siswi yang kesulitan dalam hal literasi, kelak lebih cenderung mengalami kemiskinan dan pengangguran, serta memiliki tingkat partisipasi lebih rendah dalam pemilihan negara bagian dan lokal di kemudian hari. Belum lagi, statistik penghuni penjara sangat terkait dengan level pendidikan dini. Sebanyak 70% narapidana di penjara Amerika tidak memiliki kemampuan membaca di atas tingkat kelas empat.

Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan kemampuan membaca dikaitkan dengan pandemi. Meski demikian, sebuah studi oleh para peneliti dari Harvard, Stanford, dan Dartmouth menemukan penurunan tersebut bukan hanya akibat dari karantina COVID-19, tetapi lebih merupakan produk dari tren yang lebih luas.

Para peneliti menyebutnya sebagai 'resesi pembelajaran nasional' yang ditandai dengan frekuensi ketidakhadiran siswa yang terbilang parah, kekurangan di wilayah berpenghasilan menengah, dan ketergantungan yang besar pada teknologi di ruang kelas.