NADIKABAR.COM — Pada era 1970-an, musik populer Indonesia sedang ramai dengan berbagai pengaruh dari luar negeri. Rock, pop, dan musik dansa Barat menjadi bagian dari keseharian anak muda. Di tengah situasi tersebut, muncul sebuah proyek musik yang justru memilih jalan berbeda dengan mengambil musik Barat, lalu "mengawinkannya" dengan gamelan Bali, kemudian membungkusnya dengan lirik tentang budaya, identitas, dan keresahan sosial.

Guruh Gipsy merupakan kolaborasi antara seniman Guruh Soekarnoputra dengan kelompok musik Gipsy yang beranggotakan Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman. Mereka menghasilkan satu-satunya album bertajuk "Guruh Gipsy", yang juga dikenal dengan subjudul "Kesepakatan dalam Kepekatan".

Album ini mulai digarap pada 1975 dan proses rekamannya berlangsung hingga 1976. Sementara perilisannya dilakukan pada 20 Maret 1977. Jarak antara awal penggarapan dan peluncuran itu menandakan bahwa Guruh Gipsy bukan proyek yang dikerjakan dengan terburu-buru.

Justru sebaliknya, album tersebut lahir dari proses panjang, eksperimental, dan penuh perhitungan.

Guruh ketika itu sudah dikenal sebagai seniman yang banyak berkecimpung dalam seni pertunjukan dan kebudayaan Indonesia. Ia memiliki ketertarikan besar terhadap musik serta kesenian Bali.

Sementara itu, Gipsy merupakan kelompok musik yang tumbuh dari lingkungan anak muda Jakarta dan dikenal dengan musik rock progresifnya. Pengaruh kelompok seperti Genesis, Yes, Emerson, Lake & Palmer hingga Gentle Giant terdengar dalam perkembangan musik mereka.

Pertemuan keduanya menjadi menarik karena mereka tidak sekadar memainkan musik Barat dengan tambahan gamelan sebagai hiasan.

Guruh Gipsy mencoba mempertemukan dua sistem musikal yang berbeda. Musik Barat modern dengan karakter diatonis bertemu dengan gamelan Bali yang memiliki sistem laras dan karakter musikal tersendiri.

Hasilnya bukan musik tradisional yang diberi sentuhan rock, ataupun rock yang sekadar ditempeli gamelan. Mereka berusaha membuat keduanya hidup dalam satu komposisi.

Di situlah salah satu letak keberanian terbesar album ini.

Pada 1970-an, pendekatan seperti itu bukan sesuatu yang lazim dilakukan dalam musik populer Indonesia. Ketika banyak musisi masih berhadapan dengan kuatnya pengaruh musik asing, Guruh Gipsy justru mencoba mengambil pengaruh tersebut dan mengolahnya menjadi sesuatu yang terasa Indonesia.

Yang membuat Guruh Gipsy semakin menarik adalah gagasan di balik musiknya.

Album ini tidak hanya berbicara mengenai eksplorasi suara. Guruh juga membawa persoalan kebudayaan dan perubahan sosial ke dalam lirik.

Salah satu contohnya adalah "Chopin Larung". Lagu yang dinyanyikan Chrisye tersebut menggunakan bahasa Bali dan memuat kegelisahan mengenai perubahan budaya Bali akibat modernisasi dan masuknya pengaruh asing.

Nama Chopin sendiri merujuk kepada komponis asal Polandia, Fryderyk Chopin. Dalam konteks lagu, sosok tersebut digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan perjumpaan budaya Barat dengan kebudayaan Bali.

Menariknya lagi, unsur Chopin tidak berhenti pada nama. Komposisi tersebut juga memanfaatkan bagian dari "Fantaisie-Impromptu" karya Chopin, kemudian dipertemukan dengan karakter musik Bali.

Jadi, saat mendengarkan "Chopin Larung", pendengar sebenarnya sedang diajak melihat pertemuan dua kebudayaan dari dua arah sekaligus.

Musik Barat masuk ke dalam musik Bali, tetapi pada saat yang sama musik Bali juga mengambil posisi untuk "menjawab" musik Barat.

Pesan sosial tersebut kembali terasa dalam "Janger 1897 Saka".

Lagu ini berbicara tentang perubahan Bali ketika pariwisata dan modernisasi semakin berkembang. Kesenian yang sebelumnya tumbuh dari kehidupan masyarakat perlahan mulai berhadapan dengan kebutuhan industri dan wisatawan.

Di dalam liriknya terdapat gambaran tentang perubahan fungsi seni. Memahat yang sebelumnya berkaitan dengan kebutuhan pura, misalnya, kemudian ikut bergeser untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

Persoalan tersebut terasa cukup berani untuk dibicarakan melalui musik populer pada masa itu.

Guruh Gipsy seakan ingin mengatakan bahwa modernisasi tidak selalu berarti kemajuan apabila proses tersebut membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan kebudayaannya sendiri.

Kegelisahan itu juga membuat album ini terasa lebih dari sekadar kumpulan lagu progresif rock.