NADIKABAR.COM — Indonesiaan dinilai perlu dibenahi dari hulunya, bukan sekadar menambal persoalan di hilir. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan bangsa Indonesia dibangun oleh sejarah panjang yang perlu dibaca terlebih dahulu.

Hal itu ia sampaikan di hadapan para guru besar dalam pembukaan Forum Komunikasi Guru Besar PTMA (Forkom GB-PTMA) 2026, di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory, hari ini. Menurut Haedar, cara berpikir konstruksi ke-Indonesiaan harus dimiliki oleh para guru besar. Ia mencontohkan guru besar ilmu politik yang perlu memahami bangunan politik Indonesia sebelum menyelesaikan masalah politik.

"Sehingga, jangan melompat ke masalah. Saya rasa, bangsa ini sering kurang kesabaran termasuk dalam cara membangun sistem," ujar Haedar dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).

Dirinya menilai, ketika ada bagian yang gagal, seluruh bangunan dirombak dan diganti yang baru. Hal ini menghasilkan demokrasi, HAM, dan pluralisme berkembang secara liberal.

"Setelah bergerak secara luas, bangsa ini menjadi tidak mampu menangani banyaknya perubahan tersebut dan hanya menyoroti hal-hal yang bersifat parsial," tambahnya.

Karena itu, Haedar menilai konsep HAM dan demokrasi perlu direkonstruksi kembali. Ia menyebut sila keempat Pancasila sebagai rujukan demokrasi Indonesia. Menurutnya, sila tersebut terlupakan saat reformasi.

Pola serupa juga terlihat dalam pengelolaan sumber daya alam. Haedar menilai, segala pro dan kontra soal tambang ramai di hilir, sementara hulunya adalah bumi beserta kekayaannya yang dipergunakan untuk hajat hidup.

Dalam penjelasannya, kekayaan tersebut untuk dimakmurkan dan manusia berperan sebagai khalifah di bumi. Namun, menurut Haedar, konsepnya perlu diluruskan.

"Dalam memakmurkan sumber daya alam ini, jangan dikuras habis-habisan, tetapi juga jangan dibiarkan untuk tidak dikelola," jelas Haedar.