NADIKABAR.COM — Hari pencegahan bunuh diri sedunia jatuh pada hari ini, yaitu 10 September. Menurut WHO, lebih dari 720 ribu orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun di dunia. Tren kematian akibat bunuh diri di Indonesia sendiri meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi bunuh diri di Indonesia tahun 2023 yaitu sebesar 1,87 per 100.000 penduduk. Namun, dalam data ini, seluruh kasus belum tercatat dan terlaporkan.
"Di balik setiap angka, ada kehidupan, keluarga, dan orang terdekat yang terdampak," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Ditjen Kesehatan Primer dan Komunitas, Kementerian Kesehatan RI, dr Imran Pambudi, MPHM, dalam sebuah keterangan, Kamis (10/9/2026).
Mengubah cara memandang, membicarakan, dan merespons bunuh diri penting dilakukan. Adapun tiga hal yang dapat diubah dalam hal ini yaitu stigma menjadi empati, menghakimi menjadi mendengarkan, serta diam menjadi membuka ruang untuk berbicara.
Menurut Imran, pencegahan kejadian bunuh diri bisa dilakukan dari orang sekitar. Satu percakapan bisa membuka jalan menuju pertolongan. Cara melakukannya yaitu dengan:
"Kita tidak harus menjadi tenaga profesional untuk mulai peduli," ungkapnya.
Sementara itu, Menurut Psikolog Annelia Sari Sani, M.PSI., Psikolog, penting untuk mengubah narasi, dari diam menuju percakapan terbuka ketika menghadapi seseorang yang ingin bunuh diri. Contohnya:
Berikut hal-hal penting yang dapat dilakukan:
Sebagai bantuan, Kemenkes menyediakan layanan hotline untuk pencegahan bunuh diri. Layanan kesehatan mental tidak berbayar ini memberi dukungan psikologis awal dan informasi bagi masyarakat yang sedang mengalami tekanan, keputusasaan, hingga adanya dorongan untuk mengakhiri hidup.
Cara mengakses layanan ini adalah sebagai berikut: