"Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, mati, dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah. Barangsiapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta."

Namun, sang guru sudah terlanjur murka. Imam Bukhari pun mengalah dan memilih untuk keluar dari negeri tersebut demi keselamatannya dan kembali ke tanah kelahirannya di Bukhara.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala menjelaskan bahwa Imam Bukhari kembali mendapat ujian di kampung halamannya, Bukhara. Penguasa Bukhara saat itu meminta Imam Bukhari untuk datang ke rumahnya guna membacakan Al-Jami' dan At-Tarikh kepada anak-anaknya. Namun, beliau menolaknya.

Gubernur kembali meminta Imam Bukhari datang dengan membuatkan jadwal khusus untuk anak-anaknya dan melarang orang lain hadir. Beliau kembali menolak dan berkata, "Aku tidak akan mengkhususkan seorang pun."

Ketegangan ini membuat penguasa Bukhara mengasingkan Imam Bukhari dari kota tersebut. Beliau kemudian berjalan menuju Samarkand, tetapi konflik di tim redaksi warga Samarkand yang terpecah tim redaksi menerima dan menolaknya kembali terjadi.

Merasa dirinya menjadi beban perpecahan umat, Imam Bukhari mengubah tujuannya ke sebuah desa kecil bernama Khartank, beberapa mil dari Samarkand, tempat tinggal beberapa kerabatnya.