Hal tersebut ia sampaikan pada Peluncuran Hasil PISA 2025 di Gedung E Kemendikdasmen, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Digelar sejak tahun 2000, asesmen PISA mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan membaca, sains dan matematika untuk merespons situasi nyata sehari-hari. Program penilaian siswa internasional dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) ini diikuti lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan perekonomian pada April-Mei 2025.

PISA 2025 di Indonesia diikuti oleh siswa berusia 15 tahun di SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA. Setelah pengambilan sampel sekolah secara geografis oleh OECD dan pendataan siswa berusia 15 tahun di sekolah sampel oleh Kemendikdasmen, siswa kemudian dipilih oleh OECD secara random dengan jumlah maksimal 42 murid per sekolah.

Rahmawati menambahkan, persentase jumlah siswa yang mencapai kompetensi minimum matematika pada hasil PISA 2025 RI mencapai 16,93 persen. Ia menjelaskan, siswa yang telah mencapai kompetensi minimum artinya bisa memformulasikan masalah sehari-hari ke dalam konteks atau formula matematika.

"Nah ini yang menjadi pekerjaan kita juga. Karena permasalahan sehari-hari ini artinya ada informasi, baik dalam bentuk teks, dalam bentuk grafik, dalam bentuk kabel, yang informasinya bisa jadi ada yang relevan, ada yang tidak relevan, kemudian kita diminta untuk memecahkan solusi. Tapi, sebelum kita memecahkan solusi, kita harus bisa menerjemahkan apa formula matematika dari masalah tersebut," ucapnya.