Apabila suara dentuman benar berasal dari letusan Anak Krakatau, fenomena tersebut dapat menjelaskan mengapa warga di wilayah yang lebih dekat dari lokasi letusan, seperti DKI Jakarta tidak mendengarnya lebih jelas dari warga di sebagian wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya.
Berdasarkan pemaparan Mirzam, dijelaskan bahwa suara secara sederhana tidak selalu merambat lurus dari sumber suara menuju penerima.
Ada sejumlah hal yang dapat mengubah kecepatan rambat suara, seperti perbedaan temperatur, arah angin dan kecepatan angin pada ketinggian berbeda. Akibatnya, gelombang suara dapat dibelokkan ke atas atau mengalami 'upward refraction'.
"Kemudian dapat terbentuk suatu wilayah yang disebut shadow zone. Wilayah ini, meskipun secara geografis relatif dekat dari sumber suara, tapi gelombang suaranya justru tidak langsung sampai. Suaranya bisa terdengar lemah atau malah sama sekali tidak terdengar," paparnya.
Sebaliknya, ia menjelaskan, semakin jauh dari sumber, suara tidak selalu semakin hilang. Sebagian energi suara yang merambat di atas shadow zone dapat terpecah atau mengalami 'scattering' akibat turbulensi atmosfer.
"Akibatnya suara yang tidak terdengar di suatu tempat, justru bisa kembali terdengar di lokasi yang lebih jauh dari sumber," ungkap Mirzam.
Selain atmosfer, kondisi geografis tim redaksi sumber suara dan penerima juga perlu diperhatikan. Mirzam menyebut morfologi atau penghalang yang berada di tim redaksi sumber suara dan penerima dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi suara.
"Morfologi atau penghalang tim redaksi sumber suara dan penerima juga salah satu faktor," katanya.