NADIKABAR.COM — Perusahaan rintisan "HerLens" ingin membantu lebih banyak perempuan Indonesia dalam mendeteksi kanker serviks (leher rahim) dengan akses dan harga yang lebih terjangkau.
"Kami sedang mengembangkan perangkat portabel untuk pemeriksaan kanker serviks yang dapat digunakan oleh dokter umum dan bidan, sehingga pemeriksaan tersebut menjadi lebih terjangkau, lebih mudah diakses, dan tersedia bagi semua orang," kata salah satu pendiri sekaligus CEO HerLens Jihan Alfiyyah di Suzhou, provinsi Jiangsu, Kamis (22/10).
"HerLens" mulai dikembangkan pada 2024 oleh tim mahasiswa lintas disiplin dari Universitas Indonesia, termasuk Jihan yang merupakan lulusan Teknik Biomedik, Fakultas Teknik UI.
Menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia menempati peringkat ke-3 tertinggi di dunia untuk kasus kanker serviks. Setiap tahunnya, sekitar 36.000 perempuan Indonesia didiagnosis penyakit ini, dan sayangnya, sekitar 21.000 di antaranya meninggal dunia, artinya, hampir 3 dari 5 wanita yang terkena kanker serviks kehilangan nyawanya.
"Indonesia merupakan negara yang sangat luas. Fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan tempat tinggal masyarakat umumnya adalah klinik-klinik kecil yang tidak memiliki teknologi canggih, peralatan laboratorium, ataupun dokter spesialis. Di sana biasanya hanya tersedia bidan dan dokter umum maka inilah persoalan yang berusaha kami atasi melalui inovasi kami," tambah Jihan.
Jihan mengaku mendapatkan ide tersebut dari pengalamannya pribadi yang harus kehilangan sang ibu pada 2002 karena kanker ovarium tapi tidak cepat terdeteksi sehingga ibunda meninggal hanya dalam waktu sekitar 6 bulan setelah dinyatakan positif kanker.
Saat ini, "HerLens" masih mengembangkan inovasi berbasis AI yang dapat bekerja secara daring yang terintegrasi dengan kamera ponsel pintar, memungkinkan skrining kanker serviks dilakukan dengan akurat.
"Tapi tantangan utama memang untuk meningkatkan kesadaran para perempuan untuk memeriksakan diri, misalnya kami ke daerah untuk kampanye pemeriksaan, mereka tidak mau datang kalau tanpa pemberian kompensasi tertentu, tapi saat ini kami terus untuk training dan edukasi dengan membagikan buku ke pasien bekerja sama dengan para dokter dan bidan," ungkap Jihan.
Jihan dengan "HerLens" menjadi salah satu finalis asal Indonesia dalam ajang kompetisi kewirausahaan sosial dunia "The Unlock Her Future 2026" yang diselenggarakan jaringan pusat perbelanjaan barang mewah global "The Bicester Collection".
The Bicester Collection adalah perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang ritel mewah dan pariwisata belanja yang saat ini mengelola 12 destinasi wisata belanja mewah terbuka (shopping villages) di London, Dublin, Paris, Brussels, Munich, Frankfurt, Milan, Madrid, Barcelona, Shanghai, Suzhou dan New York.
Pada 2026, "The Unlock Her Future 2026" ada 12 finalis yang berasal dari negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara, termasuk dari Indonesia.
Mereka adalah Azalea Ayuningtyas melalui "Birufinery" yang mengolah rumput laut menjadi biostimulan untuk pertanian; Celia Siura melalui "Bumbi" yang memproduksi popok dan pembalut kain; serta Jihan Alfiyyah melalui "HerLens" yang memanfaatkan AI untuk membantu bidan melakukan pemeriksaan awal kanker serviks bagi perempuan di perdesaan.
"Aku adalah peserta termuda di sini, tadi sebenarnya walau tidak menang hadiahnya tapi aku sudah menang dengan pengalaman yang bisa ikut terlibat dalam kelompok ini," tambah Jihan yang berusia 25 tahun itu.
Kemudian perwakilan China adalah Kyle Li melalui "38 Fixers" yang melatih perempuan menjadi teknisi perbaikan rumah dan Wenxi W melalui "The Visible Hands" yang mengembangkan kerajinan tradisional menjadi usaha ekonomi kreatif.
Dua finalis Singapura yaitu Mint Lim melalui "School on Cloud" yang membantu perempuan menjadi wirausaha pendidikan sekaligus memperluas akses sekolah bagi masyarakat dan Sulfya Lim melalui "Tech up Advance" yang menyediakan pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) bagi anak-anak berkebutuhan pendidikan khusus.
Dari Malaysia, Vatsala Nair melalui "Moms Village Asia" mengembangkan produk berkelanjutan yang dibuat perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga, Korea Selatan diwakili Jieun Lee melalui "Giboo" dengan AI yang menghubungkan penyandang dana filantropi dan program sosial yang butuh pendanaan, finalis Thailand Prangthong Tiengkate mengembangkan "Bamboo Family Market" yaitu pasar kerajinan komunitas yang telah memberdayakan lebih dari 60 perempuan pengrajin.
Kemudian Vietnam diwakili Nhung Tran Huyen melalui "Tham Nhung Social Enterprise" yang menyediakan dukungan kesehatan mental dan bantuan hukum bagi pekerja migran perempuan di lingkungan pabrik serta Brunei Darussalam ada Tina Afiqah melalui "Parabelle Studios" yaitu mempertemukan penulis dan ilustrator lokal yang menghadirkan kembali warisan budaya Brunei dengan cara baru dan kreatif.
Pemenang kompetisi tersebut akan mendapat dukungan pendanaan hingga 100.000 dolar AS (Rp1,8 miliar), disertai pendampingan (mentoring) profesional, pelatihan kepemimpinan, akses pendidikan, jaringan bisnis internasional maupun ekspos media.