"Kalau menggunakan galon ini praktis banget, air bisa diatur, pemupukan bisa diatur. Pupuk itu ndak lari kemana-mana, kalau di sawah ketika hujan atau irigasi mengalir tiba-tiba kan pupuknya hanyut. Kalau sini maksimal, full, istilahnya makanan yang diberikan dinikmati full oleh si padi," lanjutnya.
Memasuki usia 90 hari, Sugio mengaku belum menemukan kelemahan dari metode penanaman padi menggunakan galon. Bahkan, dia menilai bulir padi yang dihasilkan cukup bagus.
Hal tersebut juga sempat dibandingkan oleh seorang pengunjung yang memiliki sawah dengan varietas padi yang sama.
"Kalau kelemahan saya terus terang belum melihat ya. Tadi Bapake (salah satu pengunjung) aja bilang, 'loh, sawahku kok kayak nggak seperti ini yo?', nah ternyata padi yang di galon itu tidak kalah sama yang di sawah," ungkap Sugio.
"Tadi sudah membuktikan Bapake, bilang ke sini, 'Padine kok nggak kayak gini, panggenku kayak ngene', 1 hektar dia nanam varietasnya sama, tapi bagusan ini," sambungnya.
Saat ini terdapat seratusan galon berisi tanaman padi di lahan Kelompok Tani Swa Katon Asri. Tanaman tersebut diperkirakan akan dipanen sekitar 10 hari lagi.
Namun, Sugio mengaku belum bisa memastikan berapa banyak beras yang nantinya dihasilkan dari penanaman perdana tersebut.
"(Panen) Itu umur 110 hari. Ya kita belum tahu Mas ya (jumlah beras yang akan dihasilkan). Paling sekitar 10 hari lagi panen," terang Sugio.