Kondisi ini menjadi mimpi buruk bagi warga setempat, salah satunya Mia Emylia Hassan. Ibu dua anak yang menetap di Kuching ini mengaku bau asap menyengat kini menjadi "menu" sehari-hari yang sulit dihindari.
"Udara di sini sangat pekat. Baunya seperti asap dan semuanya terlihat putih," dikutip dari Al Jazeera.
Mia menceritakan betapa terbatasnya ruang gerak mereka saat ini. Jarak pandang dari kediamannya merosot tajam hingga hanya tersisa sekitar 1 kilometer. Sudah lebih dari sebulan, keluarganya kehilangan pemandangan langit biru. Kabut asap ini mulai mengepung sejak awal Agustus, tepat setelah putrinya yang masih berusia 10 bulan kembali dari rumah sakit akibat infeksi paru-paru.
"Dia belum pulih dengan baik karena paru-parunya masih berkembang. Selama sebulan ini dia terus mengonsumsi obat, serta mengalami batuk dan muntah," ujar Hassan.
Kondisi sang buah hati yang kerap mengalami kesulitan bernapas menjadi beban mental tersendiri bagi keluarga Mia.