Philippe Adam, Sekretaris Jenderal, International Council on Large Electric Systems (CIGRE), mengatakan, "Industri ketenagalistrikan tengah mengalami transformasi besar yang didorong oleh transisi energi, pusat data AI (AIDC), dan digitalisasi."

Industri ketenagalistrikan kini menghadapi sejumlah tantangan yang saling berkaitan, mulai dari transisi energi terbarukan dan transformasi cerdas hingga terbatasnya akses listrik bagi 700 juta orang di seluruh dunia. Di tengah kondisi tersebut, Huawei menilai AI telah menjadi kebutuhan penting bagi sistem ketenagalistrikan yang telah berkembang selama lebih dari satu abad. Menurut Huawei, sisi tegangan rendah yang selama ini menjadi salah satu titik kendala jaringan, akan menjadi area utama penerapan AI pada masa depan. Untuk mengatasi kesenjangan pengelolaan di sisi tegangan rendah, industri ketenagalistrikan membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih sistematis dan transparan. Pendekatan ini bertumpu pada enam kapabilitas utama, yakni observability, measurability, controllability, adjustability, tradability, dan traceability. Keenam kapabilitas tersebut sangat berperan menjaga keberlanjutan sistem dalam jangka panjang.

David Sun, Chief Executive Officer (CEO), Huawei Electric Power Digitalization Business Unit (BU), mengatakan, "Inti dari transparansi sisi tegangan rendah sebenarnya sederhana: data yang lebih cepat, kualitas yang lebih tinggi, dan efisiensi biaya yang lebih baik. Untuk membangun sistem ketenagalistrikan baru, industri perlu memprioritaskan tiga hal, yaitu talenta digital, infrastruktur digital, dan digital regulated asset base (RAB)."