Menurut Bob He, Vice President, Huawei Digital Power, lonjakan penggunaan energi terbarukan membuat jaringan listrik semakin dipengaruhi karakteristik powerelectronics. Di sisi lain, beban kerja AI dapat berubah dengan cepat dan dalam skala ekstrem. Kondisi tersebut membuat infrastruktur energi dan komputasi tidak lagi dapat beroperasi secara terpisah, namun perlu terintegrasi secara erat. Melalui inovasi "3+1", Huawei menghadirkan solusi grid-interactive AIDC yang memadukan keandalan tinggi, efisiensi energi, kecepatan implementasi, dan kemampuan beradaptasi dengan jaringan listrik untuk memaksimalkan jumlah token yang diproses per watt.
Dalam sistem kelistrikan, Huawei mengusulkan arsitektur catu daya MIMO yang memenuhi kebutuhan pusat komputasi generasi baru. Untuk menjawab tantangan tersebut, Huawei meluncurkan grid-interactive AIDC 1.0 yang mengintegrasikan UPS yang mendukung stabilitas jaringan listrik, baterai litium pintar, serta sistem penyimpanan energi grid-forming. Dengan pendekatan ini, AIDC mampu beradaptasi dengan kondisi jaringan listrik, serta ikut meredam fluktuasi beban kerja AI. Dari sisi pendinginan, Huawei juga meluncurkan sistem liquid cooling berbasis AI yang dapat memprediksi kondisi working fluid dan mendukung pemeliharaan prediktif.
Menurut He, keunggulan Huawei terletak pada kapabilitas terpadu di bidang energi serta kemampuan AI dengan rangkaian lengkap (full-stack).
Sinergi Komputasi dan Listrik: Membangun Fondasi yang Solid untuk Era AI