Ibas juga mendorong terbentuknya sebuah ekosistem dengan mempertemukan generasi muda, pemerintah, parlemen, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan.

"Kalau kalian punya teman dan saudara di pemerintahan, parlemen, dunia usaha, maupun komunitas, ayo kita berkolaborasi. Inilah cara kita mewujudkan tujuan besar secara bersama-sama," ujarnya.

Ibas menegaskan bahwa kebinekaan tidak boleh hanya dipahami sebagai keberagaman identitas, tetapi juga harus menjadi kekuatan untuk membangun kolaborasi.

Dia mengingatkan generasi muda bahwa perbedaan suku, budaya, bahasa, daerah asal, maupun pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

"Kita boleh berbeda suku, pilihan politik, pikiran, dan gagasan. Tetapi kita jangan sampai bermusuhan. Negara ini tidak akan pernah bisa besar kalau kita memimpin secara parsial, apalagi sendiri-sendiri," katanya.

Menurut Ibas, demokrasi membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat sekaligus kemampuan untuk bekerja sama setelah proses pengambilan keputusan dilakukan. Ia mengutip prinsip yang menggambarkan pentingnya kolaborasi.

"Intinya kita penting untuk berkolaborasi. Dari Jawa Barat, Banten, DKI, Jawa Timur, dan seterusnya. Termasuk kami di parlemen juga berkolaborasi," ujar Ibas.

Ibas juga mengingatkan bahwa generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan teknologi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Kehadiran artificial intelligence (AI), media sosial, algoritma, serta arus informasi yang sangat cepat menghadirkan peluang sekaligus tantangan.

Menurut Ibas, generasi muda perlu memiliki kemampuan literasi, berpikir kritis, karakter, dan adab agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.

"Mari kita perkuat ilmu, mari kita perkuat karakter, mari kita perkuat adab kita," tegasnya.

Ibas menilai pendidikan juga harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berakar pada nilai-nilai Indonesia.

Pesan tersebut sejalan dengan perhatian Ibas dalam sejumlah forum sebelumnya terhadap perkembangan AI, ekonomi kreatif, dan peran generasi muda dalam menghadapi transformasi digital. MPR RI sebelumnya juga mencatat dorongannya agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, melainkan menjadi pemain, pencipta, dan penggerak perubahan.

Edhie Baskoro juga mengajak generasi muda mengembangkan gagasan sosial melalui sejumlah gerakan yang berorientasi pada peningkatan kualitas manusia dan kesejahteraan masyarakat.

Dia menyebut pentingnya semangat Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Hijau, Indonesia Kreatif, dan Indonesia Peduli. Indonesia Pintar, menurut Ibas, dapat diwujudkan melalui kegiatan literasi dan edukasi bagi anak-anak di berbagai daerah.

"Indonesia Sehat dapat didorong melalui kampanye hidup sehat, olahraga, pencegahan narkoba, serta kepedulian terhadap persoalan gizi dan kesehatan anak," ungkapnya.

Sementara Indonesia Hijau dapat diterjemahkan melalui gerakan menjaga lingkungan, mengembangkan ekonomi hijau dan ekonomi biru, serta merawat alam secara berkelanjutan.

"Ini bukan hanya tentang menanam pohon. Tetapi bagaimana kita merawat dan menjaganya serta memberikan aksi secara berkelanjutan," ujar Ibas.