Menurutnya, efisiensi biaya melaut akan berdampak langsung terhadap pendapatan dan kesejahteraan nelayan.

"Kalau biaya mereka bisa ditekan melalui konversi maupun inovasi teknologi baru, tentu ruang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka menjadi lebih besar," katanya.

Dr. Edhie Baskoro juga menyatakan dukungan terhadap pengembangan kebijakan energi yang dapat membantu menekan biaya operasional sektor perikanan dan kemaritiman, dengan tetap memperhatikan efektivitas serta keberlanjutan program.

Blue Innovation Harus Menghasilkan Solusi Nyata

Ibas menekankan bahwa ekonomi biru tidak boleh berhenti sebagai konsep. Ia mendorong lahirnya blue innovation yang menghasilkan masalah nyata yang terpecahkan, prototipe nyata, serta manfaat nyata bagi masyarakat.

Salah satu yang disorot adalah pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung sektor kelautan.

"AI jangan dianggap sebagai musuh atau pesaing. Gunakan AI untuk membackup dan mengakselerasi kita," ujar Ibas.

Ia menyebut berbagai peluang pemanfaatan teknologi, mulai dari Internet of Things (IoT), sensor bawah air, pemantauan kualitas air, pengembangan akuakultur, efisiensi pola pemberian pakan, hingga pemanfaatan data untuk membantu nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan secara lebih efektif.

Menurut Ibas, teknologi harus diarahkan untuk mengurangi biaya, meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Hilirisasi Hasil Laut Harus Diperkuat

Ibas juga menyoroti pentingnya hilirisasi hasil laut agar Indonesia tidak terus menjual komoditas dalam bentuk mentah.

Menurutnya, pengolahan hasil perikanan dan kelautan dapat memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di daerah pesisir.

"Kita harus berpikir bagaimana hasil laut kita tidak hanya dijual mentah. Kalau kita menjual hasil olahan laut, nilai tambahnya bisa jauh lebih tinggi," katanya.

Penguatan rantai dingin atau cold storage juga dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil perikanan, memperluas akses pasar, dan mengurangi potensi kehilangan hasil.

Pulau-Pulau Kecil sebagai Pusat Pertumbuhan Baru

Ibas mengusulkan agar pulau-pulau kecil tidak selalu dipandang sebagai wilayah terluar atau kawasan yang jauh dari pusat pembangunan.

Sebaliknya, pulau-pulau kecil dapat dikembangkan menjadi pusat ekonomi baru, kawasan percontohan energi bersih, laboratorium teknologi kelautan, pusat wisata berkelanjutan, maupun sentra UMKM.

"Pulau kecil jangan kita lihat sebagai ujung Indonesia. Justru pulau kecil bisa dijadikan pusat ekonomi baru yang terbarukan," tegasnya.