NADIKABAR.COM — Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY/Ibas) mendorong pengembangan sektor pertanian produktif dan agrowisata berbasis masyarakat sebagai salah satu penggerak ekonomi kerakyatan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Hal tersebut disampaikan Edhie Baskoro saat menghadiri kegiatan panen melon dan temu masyarakat bersama kelompok tani di Desa Sumberdodol, Kabupaten Magetan, Jumat (30/10). Dalam kesempatan tersebut, Ibas meninjau langsung budi daya melon berbasis greenhouse yang dikelola kelompok tani di bawah koordinasi Suparmin.

Edhie Baskoro juga mengapresiasi kreativitas dan inovasi para petani yang berhasil mengembangkan tiga varietas melon, yakni Sakata Glamour, Sweet Lavender, dan Kirani. Ketiganya memiliki karakteristik berbeda, mulai dari warna, tekstur, ukuran, hingga tingkat kemanisan buah.

Menurut Ibas, keberhasilan petani Magetan membudidayakan melon berkualitas menunjukkan bahwa potensi pertanian dalam negeri sangat besar dan perlu terus dikembangkan. Dengan pengelolaan yang tepat, pemanfaatan teknologi, serta dukungan sarana produksi, petani Indonesia mampu menghasilkan produk hortikultura yang berkualitas dan berdaya saing.

"Alhamdulillah, ternyata kita tidak perlu jauh-jauh ke Jepang atau Korea Selatan untuk mendapatkan melon berkualitas. Di Kabupaten Magetan, kita sudah bisa menghasilkan melon yang bagus, manis, dan memiliki kualitas yang tidak kalah bersaing. Ini membuktikan bahwa potensi petani Indonesia luar biasa," ujar Ibas, Sabtu (31/10/2026).

Dalam kunjungannya, Edhie Baskoro juga melihat secara langsung penerapan teknologi greenhouse, sistem irigasi otomatis, serta penggunaan media tanam berbahan cocopeat dan sekam bakar. Sistem tersebut memungkinkan pengaturan kebutuhan air dan nutrisi tanaman secara lebih terukur sehingga proses budi daya dapat berlangsung lebih efektif.

Adapun masa budi daya melon hingga panen berkisar 70 hari. Pengembangan varietas juga terus dilakukan untuk menyesuaikan karakteristik tanaman dengan kondisi lingkungan dan permintaan pasar.

Tidak sekadar melihat proses budi daya, Ibas turut berkeliling dari satu area greenhouse ke area lainnya untuk mengamati kondisi tanaman dan buah yang siap dipanen. Ia berdialog dengan Suparmin mengenai karakteristik masing-masing varietas, proses perawatan, penggunaan media tanam, hingga berbagai tantangan yang dihadapi petani dalam menjaga kualitas produksi.

Suasana kunjungan berlangsung interaktif ketika EBY ikut memanen buah melon dari tanaman yang telah siap dipetik. Ia kemudian mencicipi ketiga varietas yang dikembangkan, yakni Sakata Glamour, Sweet Lavender, dan Kirani, sembari membandingkan rasa, tekstur, serta tingkat kemanisannya. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memilih dan menimbang hasil panen untuk dibeli dan dibawa pulang sebagai bentuk apresiasi terhadap produk petani setempat.

Ibas menilai model pertanian seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain, termasuk wilayah yang memiliki lahan belum produktif. Dengan memanfaatkan teknologi greenhouse dan pendampingan yang tepat, lahan tersebut berpeluang dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif sekaligus destinasi wisata edukasi.

Agrowisata Jadi Peluang Ekonomi Baru

Lebih jauh, Edhie Baskoro mengapresiasi langkah kelompok tani yang tidak hanya berorientasi pada produksi buah, tetapi juga mengembangkan konsep wisata petik melon yang terbuka untuk masyarakat umum.