Yotova menentang pemberian bantuan militer lebih lanjut dari Bulgaria untuk Ukraina.

Dia berulang kali menyatakan bahwa konflik tersebut tidak dapat diselesaikan melalui jalur militer, serta menyerukan pembentukan "koalisi untuk perdamaian" yang berfokus pada diplomasi.

Pandangannya itu berbeda dengan Gyurov, yang mengkritik pengurangan dukungan terhadap Ukraina dan justru mendorong koordinasi yang lebih erat dengan mitra-mitra di NATO serta Uni Eropa.

Yotova juga menekankan pentingnya bagi Bulgaria untuk memiliki ruang yang lebih luas dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negeri secara mandiri, sembari tetap menjadi bagian dari "Eropa yang kuat."

Setelah memberikan suaranya pada putaran kedua, dia mengatakan: "Saya memilih presiden perdamaian."

Dia menyatakan keinginannya agar Bulgaria menjadi negara yang "mengambil keputusannya sendiri," menentukan masa depannya sendiri, serta membangun konsensus nasional melalui dialog dan lembaga-lembaga yang berfungsi dengan baik.

Saat menjabat sebagai presiden awal tahun ini, Yotova juga sempat memveto undang-undang yang membatasi jumlah tempat pemungutan suara bagi warga negara Bulgaria yang berada di luar Uni Eropa, dengan alasan bahwa perubahan tersebut berisiko membatasi hak pilih warga.

Kemenangannya saat ini memberinya mandat penuh setelah hampir satu dekade berkecimpung dalam institusi kepresidenan Bulgaria, awalnya sebagai wakil presiden mendampingi Radev, dan sejak Januari lalu, sebagai penerusnya.

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia