Untuk melacaknya, peneliti menggunakan metode TRACE (Tracking Archaic Contributions via ARG Estimation) yang bekerja dengan cara mencari pola unik pada DNA manusia modern. DNA ini kemudian dapat menjadi petunjuk apakah nenek moyang manusia pernah bercampur dengan kelompok lain.

Peneliti menggunakan 503 sampel genom untuk dilacak asal usulnya. Sampel ini mencakup orang-orang dari berbagai latar geografis yaitu Eropa, Asia Timur, Asia Selatan, Afrika Barat dan Afrika Timur.

Metode ini menemukan DNA Neanderthal dalam genom Eropa dan Asia. dan lebih banyak leluhur Denisovan pada orang Asia Timur dan Selatan. Namun TRACE juga mengungkap sesuatu yang tampaknya tidak sesuai dengan Denisovan maupun Neanderthal, demikian dilansir ZME Science.

Berdasarkan lima populasi yang dianalisis ilmuwan, terdeteksi rata-rata sekitar 0,5 hingga 1,1% "nenek moyang misterius". Setelah diurutkan, DNA misterius tersebut memiliki kemiripan genetik yang hampir serupa dengan Neanderthal dan Denisovan.