NADIKABAR.COM — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut jumlah jadwal penerbangan yang dibatalkan dan tertunda (delay) bertambah akibat asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejak Agustus, tercatat sebanyak 2.775 jadwal penerbangan terdampak.

Berdasarkan data Kemenhub per 21 Oktober 2026, total ada 2.775 jadwal penerbangan dalam negeri terdampak karhutla sejak 11 Agustus 2026. Jumlah ini bertambah 171 penerbangan dari data per 19 Oktober 2026.

Adapun rinciannya, 1.170 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 1.544 dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), 25 dialihkan ke bandar udara lain (divert), 6 kembali ke bandar udara keberangkatan (return to base/RTB), dan 30 dimajukan jadwalnya (advance).

"Penyesuaian jadwal pada penerbangan yang terdampak karhutla semata-mata dilakukan demi keselamatan. Selama jarak pandang belum memenuhi batas minimum operasional, penerbangan tidak akan dipaksakan," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kemenhub, Lukman F. Laisa, Jumat (23/10/2026).

Saat ini sebaran dampak asap juga menjangkau Nusa Tenggara Timur, selain Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Bandar udara yang terdampak antara lain Iskandar (Pangkalan Bun), Supadio (Pontianak), Mutiara SIS Al-Jufrie (Palu), Sultan Babullah (Ternate), Pattimura (Ambon), Mozes Kilangin (Timika), Rendani (Manokwari), H. Hasan Aroeboesman (Ende), Sultan Thaha (Jambi), dan Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang).

Imbas paparan asap tersebut mengurangi jarak pandang di sekitar bandara. Kondisi ini memengaruhi proses lepas landas, pendaratan, dan pergerakan pesawat, sehingga dapat berujung pada keterlambatan, pengalihan, maupun pembatalan penerbangan.