NADIKABAR.COM — Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mendorong peningkatan devisa negara dari sektor ekonomi kreatif, seperti industri musik, game (permainan), pariwisata, hingga artisan.

“Ekonomi kreatif ini banyak dibicarakan, bahkan ada kementeriannya sendiri, tetapi sebenarnya jumlahnya masih relatif rendah. Padahal, sebenarnya kalau kita melihat dari potensinya, itu sangat besar,” ujar Aviliani dalam acara ANTARA Business Forum yang digelar di Jakarta, Rabu.

Aviliani memaparkan terdapat tiga strategi utama yang bisa dimanfaatkan, yakni pilar Red Hot Industry yang terdiri atas game, musik, animasi dan layanan digital. Ia memaparkan potensi yang dapat dikembangkan melalui pilar tersebut adalah peningkatan talenta digital.

Kemudian, pilar artisan yang terdiri atas wastra, kopi, teh dan kriya. Pilar itu, menurut dia, dapat dikembangkan lebih besar lagi karena nilai tambah yang diberikan dapat mencapai 25–1.000 kali lipat apabila dikembangkan dengan baik.

Pilar ketiga adalah multi event yang terdiri atas perhelatan olahraga, konser, hingga MICE (pertemuan, insentif, konferensi dan pameran). Aviliani mencontohkan bagaimana Singapura berhasil menarik wisatawan dari berbagai negara melalui pengadaan konser musisi Taylor Swift.

“Taylor Swift itu terkenal, ya. Begitu ada di Singapura, seluruh dunia datang ke sana,” ucap Aviliani.

Gebrakan-gebrakan tersebut, menurut dia, juga perlu dikembangkan di Indonesia untuk menjadi daya tarik pariwisata.

Aviliani menyampaikan sektor manufaktur penting untuk penciptaan lapangan pekerjaan, namun sektor ekonomi kreatif berperan sebagai pencipta nilai tambah dan devisa bagi negara.

“Sebenarnya kita punya potensi di sana. Jadi, kalau ini bisa dikembangkan, itu bisa paling tidak dari sisi devisa itu cenderung bisa ada peningkatan,” kata Aviliani.