NADIKABAR.COM — Pelaku perdagangan aset kripto dalam negeri meminta investor mencermati dinamika pasar kripto menyusul inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada di atas target The Fed (Federal Reserved) sebesar 2 persen.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai, investor perlu melihat perkembangan tersebut secara menyeluruh dan tidak menjadikan satu keputusan atau indikator sebagai satu-satunya acuan dalam membaca pasar kripto.
Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, ia mengatakan, catatan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis Federal Reserve Amerika Serikat pada 7 Oktober 2026 menunjukkan, pembuat kebijakan masih mencermati risiko inflasi. Dokumen tersebut merangkum rapat 15 – 16 September 2026 yang memutuskan kenaikan suku bunga acuan menjadi 3,75 – 4,00 persen.
Catatan rapat FOMC, lanjutnya, menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi perhatian The Fed, namun, pergerakan aset kripto dipengaruhi banyak faktor, mulai dari likuiditas global, kondisi ekonomi, regulasi, hingga dinamika masing-masing aset.
"Oleh karena itu, investor perlu melihat konteks yang lebih luas dan tidak bertumpu pada satu indikator ekonomi,” ujarnya.