NADIKABAR.COM — Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, 24 penyuluh keluarga berencana membina 147 desa. Rata-rata setiap penyuluh memegang enam desa, tiga kali lipat dari patokan ideal satu penyuluh untuk dua desa. Angka itu muncul dalam pertemuan Perwakilan BKKBN NTT dengan pemerintah kabupaten pada Desember 2025. Pertemuan yang sama juga membawa kabar baik: angka kelahiran total Sikka sudah turun ke 2,18 dan dinilai memenuhi target nasional.
Dua fakta itu menggambarkan posisi pembangunan keluarga di Indonesia hari ini. Arah kebijakannya jelas dan sebagian hasilnya mulai terlihat. Namun, jalur yang mengantarkan program sampai ke rumah tangga masih sempit.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai syarat utama Indonesia menjadi negara maju. Padahal, sebagian besar penentu kualitas manusia terbentuk jauh sebelum seseorang masuk pasar kerja. Gizi, pengasuhan, dan keputusan orang tua pada tahun-tahun awal kehidupan menentukan arah pertumbuhan anak.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menerjemahkan logika itu ke dalam Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dengan pendekatan siklus hidup. Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) menyasar gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) menyediakan layanan pengasuhan anak bagi orang tuannya yang bekerja, sedangkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) mendorong ayah ikut mengasuh. Program Generasi Berencana (GenRe) dan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) menyiapkan remaja, sementara Lansia Berdaya (Sidaya) menjaga penduduk usia lanjut tetap sehat dan produktif.