Hal lain yang disampaikan Ni Luh yakni pentingnya memperkuat kesiapan destinasi, konektivitas pariwisata, mengintegrasikan teknologi dengan peningkatan sumber daya manusia serta mendorong event yang berkelanjutan, inklusif dan memberikan manfaat yang nyata bagi UMKM maupun masyarakat lokal.
"Pada akhirnya nilai baru pariwisata Indonesia terletak pada kemampuan kita mengubah setiap event menjadi pengalaman dan setiap pengalaman menjadi nilai. Nilai tersebut harus terlihat pada ekonomi yang bergerak, lapangan kerja yang tercipta, budaya yang semakin dikenal, lingkungan yang tetap terjaga dan reputasi Indonesia yang semakin kuat," ucap Ni Luh.
Menurut Ni Luh, prospek pariwisata Indonesia ke depan akan terus tumbuh positif. Dia membeberkan pada semester I 2026, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 7,45 juta kunjungan atau meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pada periode tersebut, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta perjalanan, sedangkan devisa pariwisata tercatat sebesar 8,43 miliar dolar AS.
Berdasarkan data yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan juga terlihat pada Juli 2026 dengan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 1,53 juta kunjungan.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara sepanjang Juli 2026 mencapai 107,4 juta perjalanan atau meningkat 7,23 persen secara tahunan.
Ia berharap capaian tersebut dapat menumbuhkan optimisme bahwa pariwisata Indonesia tetap diminati wisatawan global maupun masyarakat Indonesia untuk berwisata di dalam negeri.