NADIKABAR.COM — Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Arrmanatha Nasir menegaskan kepada Menlu Singapura Vivian Balakrishnan bahwa Indonesia saat ini memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dampaknya sampai ke negara tetangga, termasuk Singapura.

Dalam pernyataan pers bersama usai pertemuan bilateral dengan Balakrishnan, Menlu RI menekankan bahwa korban-korban terawal karhutla adalah para petani, keluarga, dan anak-anak di Sumatra dan Kalimantan yang terpapar asapnya.

“Karena itulah Presiden Prabowo menjadikan upaya penanganan karhutla sebagai prioritas nasional. Dan saya telah menegaskan hal ini kepada Menlu Vivian,” kata Arrmanatha di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan bahwa Presiden Prabowo telah menginstruksikan peningkatan intensitas dan koordinasi, pengoptimalan respons nasional, dan pemanfaatan semua sumber daya nasional untuk penanganan karhutla dan dampaknya.

“Dari ‘water bombing’, penggunaan es kering, modifikasi cuaca, kami manfaatkan semua teknologi yang ada untuk menanggulangi kebakaran hutan,” ucap Menlu RI.

Arrmanatha berkata juga telah menyampaikan kepada Vivian bahwa Indonesia telah mengerahkan total sebanyak 71 ribu personel di darat serta 50 lebih unit armada udara untuk memadamkan karhutla di provinsi-provinsi prioritas.

Hal tersebut menunjukkan upaya keras Indonesia untuk mengatasi karhutla serta dampak kabut asapnya yang sampai ke Singapura.

Lebih lanjut, Menlu RI menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra asing, termasuk Singapura, yang menawarkan bantuan kepada Indonesia dalam pemadaman kebakaran hutan.

Namun demikian, tawaran tersebut akan dipertimbangkan oleh otoritas terkait di Indonesia sesuai dengan kebutuhan di lapangan, ucap dia.

“Kami memahami kekhawatiran negara-negara tetangga serta mengapresiasi tawaran bantuan yang mereka berikan,” demikian Arrmanatha.

Adapun berdasarkan pemutakhiran data BNPB per Minggu (25/10), total luas lahan yang masih dalam penanganan akibat karhutla tercatat seluas 3.392 hektare di Pulau Kalimantan. Sementara di Pulau Sumatera, luas lahan dalam penanganan mencapai sekitar 990 hektare.

Untuk mengoptimalkan penanganan darurat di lapangan, pemerintah menyiagakan sebanyak 57.050 personel satuan tugas penyiraman darat di enam provinsi, yang didukung oleh pengerahan total 61 unit armada udara, terdiri atas 24 unit pesawat patroli, CASA, dan OMC, serta 37 unit helikopter water bombing berdasarkan data pemutakhiran 26 Oktober 2026.