NADIKABAR.COM β€” Industri anime Jepang menghadapi kesenjangan upah dan kondisi kerja di tengah meningkatnya permintaan global terhadap konten animasi, menurut penasihat program Festival Film Internasional Tokyo, Fujitsu Ryota.

Dilansir dari Variety, Senin, Fujitsu mengatakan kesenjangan tersebut terutama terlihat antara studio yang bersedia menggunakan modal sendiri untuk membiayai produksi dan menanggung risiko bisnis dengan studio yang tidak memiliki kemampuan serupa.

β€œDengan tingkat kreativitas tinggi yang ditunjukkan para profesional animasi, kompensasi yang mereka terima masih belum sesuai harapan,” kata Fujitsu kepada Variety.

Menurut dia, kemampuan studio memberikan upah yang layak turut menentukan keberhasilan produksi. Studio yang mampu merekrut tenaga kreatif berkualitas memiliki peluang lebih besar menghasilkan karya yang sukses dan memperluas pasar internasional.

Fujitsu menilai keberhasilan sebuah film tidak selalu menjadi penyebab utama peningkatan pendapatan pekerja. Sebaliknya, studio yang sejak awal mampu menarik tenaga profesional berpotensi menghasilkan karya yang lebih kuat secara komersial.

Dia juga menyoroti tantangan pendanaan film animasi orisinal yang tidak didasarkan pada waralaba atau kekayaan intelektual (IP) populer. Di tengah investasi layanan streaming dan kesuksesan film animasi berbasis waralaba, karya orisinal berisiko semakin sulit memperoleh pendanaan dan distribusi.

Minimnya dukungan dana publik untuk produksi film animasi di Jepang turut menyulitkan pembiayaan proyek orisinal. Namun, meningkatnya partisipasi sineas Jepang dalam festival internasional, pasar luar negeri, dan produksi bersama lintas negara membuka peluang pendanaan alternatif.

Dalam program animasi Festival Film Internasional Tokyo tahun ini, sembilan karya dari Jepang dan negara lain ditampilkan. Program tersebut mencakup film produksi studio besar maupun independen, dengan pendekatan komersial dan eksperimental.

Festival itu juga menghadirkan program khusus sutradara animasi perempuan untuk mencerminkan meningkatnya keterlibatan perempuan dalam industri tersebut.

Selain itu, Fujitsu tengah mempersiapkan diskusi mengenai rencana pembentukan penghargaan anime internasional baru pada 2027 melalui pasar konten TIFFCOM dan inisiatif Tokyo Anime Next.

Dia berharap penghargaan tersebut dapat memberikan pengakuan kepada para kreator sekaligus anggota tim produksi yang berkontribusi dalam pembuatan karya animasi.

Penerjemah: Farika Nur Khotimah