Ada pula influencer yang dilaporkan menyantap 120 pangsit dan 16 bungkus mi instan dalam satu sesi livestream. Setelahnya, berat badannya disebut mencapai sekitar 190 kg dan mengalami berbagai masalah kesehatan akibat obesitas.
Sebagian influencer lainnya bahkan dilaporkan melakukan aksi makan atau minum secara palsu serta membuat klaim berlebihan mengenai jumlah makanan yang dikonsumsi.
Besarnya kemampuan makan berkaitan langsung dengan jumlah penonton. Semakin banyak penonton, semakin besar pula peluang mendapatkan pemasukan dari iklan maupun penjualan melalui livestream.
Kondisi itu membuat sebagian influencer tetap melakukan siaran meski tubuh telah menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan.
China sebenarnya telah memiliki aturan untuk membatasi konten makan berlebihan di internet.
Konten semacam itu menjadi salah satu sasaran dalam kampanye Qinglang Operation. Undang-Undang Anti-Pemborosan Makanan yang disahkan pada 2021 secara tegas melarang produksi, publikasi, dan penyebaran konten audio maupun video yang mempromosikan konsumsi makanan secara berlebihan.
Aturan perilaku bagi streamer online yang diterbitkan pada 2022 juga melarang sejumlah praktik, termasuk berpura-pura makan, memuntahkan makanan secara sengaja, serta melakukan makan berlebihan.
Meski demikian, kasus influencer yang tetap melakukan pola makan ekstrem menunjukkan risiko kesehatan masih menjadi persoalan di balik industri mukbang.