NADIKABAR.COM — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah di Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah antrean panjang kendaraan terjadi di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), khususnya di Bali. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM, bahkan memunculkan kekhawatiran mengenai ketersediaan bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari.

Situasi di Bali menjadi sorotan setelah video antrean kendaraan dan keluhan masyarakat di SPBU beredar luas di media sosial. Selain mengganggu aktivitas warga, kondisi tersebut juga memunculkan laporan mengenai penjualan BBM eceran dengan harga yang jauh di atas harga normal oleh sejumlah oknum ke para wisatawan asing.

Lantas, mengapa BBM bisa langka di beberapa daerah, padahal pemerintah menyatakan persediaan BBM nasional masih aman?

Salah satu penyebab utama kelangkaan BBM di daerah adalah gangguan distribusi, yakni ketika bahan bakar yang tersedia belum dapat disalurkan ke SPBU sesuai jadwal.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman menjelaskan pada 14 Oktober 2026 bahwa antrean panjang di Bali terjadi akibat keterlambatan kapal pengangkut BBM. Kondisi tersebut menghambat penyaluran bahan bakar ke sejumlah SPBU.

Menurut Laode, ketahanan stok BBM nasional saat itu masih berada pada kisaran 18 hingga 20 hari. Dengan demikian, gangguan yang terjadi di Bali lebih berkaitan dengan proses distribusi daripada menipisnya persediaan BBM secara nasional.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan BBM di depot atau terminal penyimpanan tidak selalu berarti bahan bakar dapat langsung diperoleh masyarakat. BBM masih harus melewati proses pengangkutan, pembongkaran, penyimpanan, hingga pengiriman ke SPBU.

Ketika salah satu tahapan tersebut terhambat, stok di SPBU tertentu dapat menipis atau habis meskipun persediaan di tingkat yang lebih besar masih tersedia.

2. Cuaca buruk dan kendala teknis kapal

Pengiriman BBM ke daerah kepulauan seperti Bali sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut. Karena itu, cuaca buruk dan kendala teknis kapal dapat memengaruhi jadwal kedatangan pasokan.

Pertamina menjelaskan bahwa gangguan pasokan di Bali pada Oktober 2026 turut dipicu masalah teknis pada bagian jangkar kapal pengangkut BBM. Kendala tersebut membuat jadwal kapal bersandar dan membongkar muatan yang semula direncanakan pada Senin (12/10) pukul 06.30 WITA mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA.

Selain itu, gelombang tinggi dan kondisi laut yang kurang mendukung dapat memperlambat proses kapal bersandar maupun bongkar muat BBM.

Keterlambatan beberapa jam saja bisa memengaruhi ketersediaan bahan bakar di SPBU apabila kebutuhan masyarakat terus berjalan setiap hari. Dampaknya dapat semakin terasa ketika pengiriman berikutnya juga mengalami hambatan.

Kendala transportasi tidak hanya terjadi pada jalur laut. Di sejumlah wilayah yang mengandalkan transportasi sungai, misalnya, penurunan debit air dapat membuat pengiriman dialihkan menggunakan truk dengan kapasitas angkut yang lebih terbatas.