Artinya, pemain NBA harus menghadapi jadwal yang sangat panjang.
Bukan cuma soal bermain setiap beberapa hari. Tim juga harus melakukan perjalanan antarnegara bagian, menghadapi pertandingan back-to-back, menjaga kondisi pemain, sampai mengatur menit bermain sepanjang musim.
Pada musim reguler IBL 2026, tercatat 110 pertandingan berlangsung dari 10 Januari hingga 10 Mei. Sebanyak delapan dari 11 kontestan melaju ke playoff.
IBL juga menggunakan format home and away. Artinya, pertandingan tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi membawa tim ke berbagai kota sekaligus membangun basis penggemar masing-masing klub.
Jadi, kalau NBA adalah maraton yang sangat panjang, IBL memiliki kalender kompetisi yang lebih ringkas tetapi tetap menuntut konsistensi.
Roster NBA juga punya karakter yang berbeda
NBA memperbolehkan setiap tim memiliki maksimal 15 pemain dalam roster utama, dengan 12 pemain yang bisa aktif dalam sebuah pertandingan.
Sementara di Indonesia sendiri, IBL memperbolehkan klub mendaftarkan 14 pemain lokal dan maksimal tiga pemain asing dengan aturan tertentu. Klub juga diwajibkan memiliki minimal dua pemain berusia di bawah 23 tahun dengan rata-rata waktu bermain tertentu sepanjang musim reguler.
Nah, di sinilah terlihat salah satu karakter penting IBL.
IBL bukan hanya mencari cara agar klub bisa memenangkan pertandingan, tetapi juga berusaha memberikan ruang bagi pemain lokal dan pemain muda Indonesia untuk berkembang.
Aturan tersebut bahkan akan bergerak lebih jauh pada musim 2027.
Per Oktober 2026, IBL dan pemilik klub telah menyepakati arah regulasi bahwa setiap klub hanya boleh mengontrak dua pemain asing pada musim 2027. Kebijakan ini ditujukan untuk memperbesar kesempatan bermain bagi pemain lokal.
Dengan kata lain, regulasi pemain asing IBL memiliki tujuan yang lebih spesifik terhadap perkembangan ekosistem basket Indonesia.
NBA punya salary cap dengan sistem yang jauh lebih kompleks
Kalau bicara soal bisnis, perbedaan NBA dan IBL semakin menarik.
NBA mempunyai sistem salary cap yang sangat kompleks. Ada batas pengeluaran, pengecualian tertentu, luxury tax, hingga second apron yang membuat klub tidak bisa sebebas itu mengeluarkan uang untuk membangun roster.
Sistem tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan kompetisi dan mencegah tim dengan kekuatan finansial terbesar mendominasi liga tanpa batas. NBA sendiri menjelaskan bahwa sistem tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan kompetisi yang lebih seimbang.
IBL juga mulai menerapkan mekanisme serupa, tetapi dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi basket Indonesia.
Pada musim 2026, IBL menetapkan batas gaji pemain asing sebesar 30.000 dolar AS per bulan atau sekitar Rp530 juta. Pelanggaran dapat berujung pada denda, pengurangan subsidi, hingga pengurangan poin.
Artinya, baik NBA maupun IBL sama-sama mulai menjadikan pengelolaan finansial sebagai bagian penting dari kompetisi.
Bedanya, skala dan kompleksitasnya tentu sangat jauh.
Playoff NBA adalah maraton tersendiri
NBA juga memiliki struktur playoff yang sangat panjang.