Sebelum masuk playoff, ada Play-In Tournament untuk menentukan dua tim terakhir yang mendapatkan tiket playoff dari masing-masing konferensi.

Kemudian babak playoff menggunakan format best-of-seven.

Artinya, sebuah tim harus memenangkan empat pertandingan untuk melewati satu ronde.

IBL atau kompetisi negara lainnya mayoritas memiliki pendekatan berbeda.

Pada musim 2026, semifinal dan final menggunakan format best-of-five dengan keuntungan kandang lebih banyak untuk tim yang memiliki peringkat lebih tinggi.

Jadi, NBA membutuhkan empat kemenangan dalam satu seri, sedangkan IBL membutuhkan tiga kemenangan pada seri best-of-five.

Menariknya, IBL 2026 menghasilkan salah satu final paling ketat dalam sejarah terbarunya.

Bogor Hornbills mengalahkan Pelita Jaya Jakarta dengan skor seri 3-2 dan menjadi juara IBL 2026. Hornbills pun mencatat sejarah sebagai juara baru setelah lima musim terakhir menghasilkan lima juara berbeda.

Ini menunjukkan bahwa meskipun skalanya berbeda, IBL juga punya persaingan yang cukup terbuka.

NBA punya pemain dari seluruh dunia

Salah satu alasan NBA dianggap sebagai kompetisi basket paling global adalah keberagaman pemainnya.

NBA tidak hanya diisi pemain Amerika Serikat. Pada opening night musim 2025/2026 saja, terdapat 135 pemain internasional dari 43 negara dan enam benua. Seluruh 30 tim NBA memiliki setidaknya satu pemain internasional.

Nama-nama seperti Nikola Jokic dari Serbia, Giannis Antetokounmpo dari Yunani, Luka Doncic dari Slovenia dan Victor Wembanyama dari Prancis menunjukkan bahwa pemain terbaik NBA tidak selalu berasal dari Amerika Serikat.

Sementara itu, IBL lebih berfokus pada pengembangan pemain Indonesia dengan tambahan pemain asing sebagai bagian dari komposisi roster.

Jadi, apakah NBA lebih bagus daripada kompetisi lain?

Kalau pertanyaannya soal kualitas pemain dan skala industri, NBA memang berada di level yang sangat berbeda.

Namun, mengatakan NBA "lebih bagus" tanpa konteks juga kurang tepat.

NBA dibuat dengan karakter kompetisi Amerika Utara yang sangat panjang, dengan 82 pertandingan regular season, sistem salary cap yang kompleks, perjalanan antarkota yang masif, serta playoff best-of-seven.

IBL memiliki kebutuhan yang berbeda.

Liga Indonesia harus membangun klub berbasis kota, memperluas basis penonton, memberikan ruang bagi pemain lokal, mengembangkan pemain muda, sekaligus menjaga klub tetap sehat secara finansial.

Karena itu, aturan yang digunakan tidak harus sama dengan NBA.

Justru menariknya basket ada di situ.

Ketika melihat NBA, penonton melihat bagaimana olahraga ini berkembang menjadi industri olahraga global. Ketika melihat IBL, penonton bisa melihat bagaimana olahraga yang sama sedang membangun ekosistem profesionalnya di Indonesia.