Bagi Iwan, melon adalah komoditas yang unik untuk ditanami. Tanaman ini justru membutuhkan paparan sinar matahari yang melimpah untuk menghasilkan kadar gula yang sempurna. Semakin panas cuaca, semakin manis rasa yang dihasilkan di balik kulit melon yang berserat itu.

"Memang pinginnya panas. Jadi kadar kemanisannya dapat. Rasa buahnya manis," ucap Iwan.

Untuk menyiasati dahaga tanaman di tengah kemarau, Iwan meninggalkan cara-cara konvensional. Ia membangun sumur mandiri dan memasang instalasi irigasi tetes atau drip irrigation. Teknologi sederhana namun efektif ini memastikan setiap tetes air jatuh tepat di pangkal batang secara terukur.

Metode ini terbukti jauh lebih efisien dalam menghemat sumber daya air yang terbatas di musim kering, sekaligus memangkas biaya operasional tenaga kerja.

"Air kita bikin sumur. Kita bikin sistem drip, jadi lebih hemat air daripada sistem kocor. Lebih hemat waktu dan tenaga juga," ujarnya.

Hasilnya pun tak main-main. Dari 1.500 pohon yang ditanam, sebagian besar mampu menghasilkan buah dengan bobot rata-rata 1,5 hingga 1,7 kilogram. Bahkan, beberapa buah "raksasa" mencapai berat dua kilogram. Iwan juga melakukan eksperimen berani dengan menanam varietas melon yang biasanya hanya hidup di dalam greenhouse (GH) ke lahan terbuka.