Menurut laporan Axios, yang dilansir Anadolu Agency, memo tertanggal 23 Oktober itu menyatakan bahwa informasi intelijen itu relevan bagi lebih banyak personel AS. Memo satu halaman yang diklasifikasikan rahasia itu, tidak menyebutkan target, negara di luar Timur Tengah, atau sifat dari rencana serangan tersebut.

Seorang pejabat AS, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan bahwa informasi intelijen itu menjadi salah satu alasan mengapa jumlah personel Kedutaan Besar AS di negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Lebanon, Qatar, dan Yordania.

Awal pekan ini, para anggota keluarga dan staf tidak esensial diperintahkan meninggalkan Kedutaan Besar AS di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, dan di Konsulat AS yang ada di Jeddah dan Dhahran.

Beberapa waktu terakhir, Presiden AS Donald Trump membahas soal kemungkinan operasi militer terbaru terhadap Iran. Upaya diplomatik, yang diupayakan Pakistan dan Qatar sebagai mediator, menghadapi kebuntuan.