Marina mengatakan industri lada global masih memiliki ruang pertumbuhan dengan melihat volume ekspor global pada 2025 diperkirakan mencapau 418.519 metrik ton. Besarnya produksi dan perdagangan tersebut menunjukkan potensi ekonomi lada yang masih dapat dikembangkan, terutama melalui peningkatan kualitas produk dan pengolahan di luar komoditas lada utuh maupun bubuk.
Menurutnya, negara produsen menghadapi berbagai tantangan mulai dari perubahan iklim, kenaikan biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja, keamanan pangan, keterlacakan, hingga perubahan persyaratan pasar. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi pengembangan industri lada melalui diferensiasi dan penciptaan produk bernilai tambah.
Pengembangan produk lada pun mulai semakin beragam, tidak terbatas pada lada utuh dan bubuk, tetapi juga mencakup ekstrak, flavor, fragrance, hingga berbagai produk konsumen bernilai tambah.