Agus membantah keras anggapan bahwa pengelola mengeluarkan dana besar untuk membayar pertunjukan musik dangdut atau artis komersial.

"Panggung dangdut dan artis itu tidak ada yang dibayar seribu rupiah pun. Seperti grup Istara dari Jakarta yang tampil karena ulang tahun komunitasnya, kami hanya sediakan panggung dan sound system. Artis Tasa dan grup dangdut lainnya itu dibawa oleh promotor sponsor luar agar suasana ramai dan pedagang belanja. Bahkan untuk wayang golek itu dibiayai oleh pihak Sevron, mereka hanya bawa dalang dan pemain, panggung dari kami," bebernya.

Kendati kondisi pendapatan sewa stan bergantung pada ramai-sepinya pengunjung dan daya beli masyarakat, Agus memastikan tetap memberikan bantuan dana partisipasi pribadi untuk pementasan kolosal Paguyuban Padjajaran Anyar pada seremoni pembukaan resmi bersama Bupati Sukabumi.

"Untuk grup Kang Firman tanggal 10 saat pembukaan bersama Pak Bupati, karena ada pementasan kolosal, pasti ada bantuan partisipasi dana dari saya sekitar Rp2 jutaan. Jika mereka mendapat sponsor panggung bersama produk lain untuk hadiah, kami sangat persilakan. Sebenarnya idealnya ada peran Dinas Kebudayaan yang membina dan mendampingi sanggar seni lokal secara resmi, karena kami ini pihak swasta," pungkas Agus.