Puncak sejak lama berdiri di tim redaksi dua kepentingan yang sulit dipisahkan, tim redaksi ruang untuk menggerakkan ekonomi dan kawasan yang harus dijaga fungsi ekologisnya. Penelitian Ismail Saleh, Aji Hermawan, dan M. Achmad Chozin dalam Sustainable Culinary Tourism in Puncak, Bogor bahkan menyebut pertentangan tim redaksi industri pariwisata dan kepentingan konservasi di Puncak telah berlangsung lama.
Kawasan ini, tulis mereka, di satu sisi dikenal sebagai wilayah pengembangan wisata dan pertanian, tetapi pada saat bersamaan mempunyai fungsi penting sebagai daerah konservasi air bagi Sungai Ciliwung. Dalam kondisi inilah developmentalism bertemu dengan environmentalism.
Di satu sisi pariwisata membawa restoran, penginapan, tempat rekreasi, lapangan pekerjaan, dan perputaran uang. Namun pertumbuhan yang sama membutuhkan tanah, infrastruktur, serta ruang baru.
Saleh dkk., masih dalam riset tersebut di atas, mengingatkan bahwa pariwisata dapat menjadi semacam time bomb karena menyimpan potensi bahaya terhadap lingkungan serta gangguan sosial dan budaya. Bahkan, pembangunan wisata dapat menarik lahan dan tenaga kerja keluar dari sektor pertanian.
Tarik-menarik itu terlihat dalam persoalan yang sangat konkret. Studi tersebut menemukan sedikitnya lima isu strategis dalam pengembangan wisata Puncak, yaitu konversi fungsi lahan, dampak ekonomi dan sosial, keterlibatan masyarakat lokal, lalu lintas dan infrastruktur, serta pengelolaan sampah.
Pertumbuhan ekonomi memang mengikuti arus wisatawan, tetapi ongkos ekologisnya ikut bergerak. Kemacetan disebut menjadi salah satu penghambat utama perjalanan ke Puncak, sementara pengelolaan sampah belum mampu menjangkau seluruh kawasan karena pengangkutan terutama berlangsung di sepanjang jalan utama.
Persoalannya, masih kata Saleh dkk., pilihan bagi Puncak bukan sesederhana menghentikan pembangunan atau membiarkan investasi terus berjalan. Jalan tengahnya berada pada batas daya dukung kawasan. Konsep pariwisata berkelanjutan menempatkan pembangunan sebagai upaya mencari keseimbangan tim redaksi pertumbuhan potensi wisata dan kebutuhan konservasi sumber daya, dengan tujuan "minimize environmental and cultural damage" sekaligus mempertahankan manfaat ekonomi jangka panjang.