NADIKABAR.COM — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memastikan keberlanjutan pendidikan dan pendampingan psikologis bagi seorang mahasiswi yang diduga menjadi korban kekerasan seksual (KS) oleh salah satu dosen di kampus tersebut.

Ketua Humas ISI Yogyakarta Daru Tunggul Aji di Bantul, Selasa, mengatakan keselamatan, perlindungan, pendampingan, keberlanjutan pendidikan, dan pemulihan korban menjadi prioritas dalam penanganan laporan dugaan kekerasan seksual tersebut.

"Kami juga memastikan tidak boleh ada intimidasi, tekanan, ancaman, pembalasan, maupun tindakan lain terhadap korban, pelapor, dan saksi selama maupun setelah proses penanganan berlangsung," katanya.

Menurut Daru, kampus juga menjaga kerahasiaan identitas serta informasi pribadi korban, pelapor, dan saksi selama proses penanganan.

"Masyarakat dan sivitas akademika kami minta tidak menyebarluaskan identitas, dokumentasi, ataupun informasi yang berpotensi menambah beban atau membahayakan korban," ujarnya.