Dikutip dari buku Catatan Fikih Puasa Sunnah oleh Hari Ahadi, landasan kebolehan ini adalah perkataan Aisyah Radhiyallahu anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَي أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

Artinya: "Rasulullah biasa berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, dan beliau tidak mempersoalkan di tanggal berapa itu." (HR Muslim no 1160)

Umat Islam boleh mengerjakan puasa sunnah penuh keutamaan ini dengan metode 3 hari berturut-turut. Bisa pula mengerjakannya terpisah, sesuai kemampuan. Hanya saja, yang terbaik tetap berturut-turut tanggal 13, 14, dan 15.

Sebelum beribadah, termasuk Ayyamul Bidh, seorang muslim perlu berniat terlebih dahulu. Niat wajib ada dalam hati, tanpa keharusan mengucapkannya. Namun, ada ulama yang menganggap pembacaan niat sebagai hal baik.

Diambil dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), begini bacaan Arab, Latin, dan arti niat puasa Ayyamul Bidh:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ اَيَّامَ اْلبِيْضِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ayyamal bidhi sunnatan lillahi ta'ala.