Melalui kritera MABIMS, ketinggian hilal minimal berada pada angka 3 derajat di atas ufuk dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat. Bila pada hari pemantauan ketinggian hilal tidak memenuhi kriteria tersebut, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal sehingga awal puasa berpotensi digeser ke hari berikutnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ijtimak atau konjungsi awal Ramadan 1448 H terjadi pada Sabtu, 6 Februari 2027 pukul 15.56.02 UT atau 22:56:02 WIB. Pada hari tersebut, tinggi hilal di Indonesia saat matahari terbenam adalah -4.52° di Jayapura sampai dengan -3.22° di Tua Pejat.
Karena masih berada di bawah ufuk (di bawah 0°), hilal mustahil terlihat pada proses pemantauan. Mengacu pada data tersebut, tanggal 7 Februari 2027 belum masuk bulan baru. Artinya, awal bulan Ramadan 1448 H kemungkinan baru akan dimulai pada Senin, 8 Februari 2027 dan salat Tarawih pertama diprediksi dilaksanakan pada Minggu malam, 7 Februari 2027.
Apabila bulan Ramadan berlangsung selama 29 hari, maka Hari Raya Idul Fitri 1448 H akan jatuh pada 9 Maret 2027. Namun jika bulan Ramadan genap 30 hari, maka Hari Raya Idul Fitri 1448 H akan jatuh pada 10 Maret 2027.