NADIKABAR.COM β€” Bank Indonesia (BI) menyatakan komitmen untuk berkoordinasi dengan pemerintah dalam memperbaiki struktur transaksi berjalan (current account) yang masih mengalami defisit guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2026 mencatat defisit 12,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari defisit 3,6 miliar dolar AS pada triwulan I-2026 (1,0 persen dari PDB).

β€œSinergi dilakukan tidak hanya di KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), tapi juga dengan kementerian dan lembaga, khususnya terkait dengan stabilitas nilai tukar, agar struktur dari BOP (neraca pembayaran) kita atau struktur dari current account kita itu bisa lebih baik,” kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea dalam Taklimat Media, di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, perbaikan struktur transaksi berjalan diharapkan dapat berjalan melalui peningkatan ekspor dan pengelolaan impor, termasuk pembayaran yang berkaitan dengan kebutuhan impor.

β€œArtinya ekspor bisa lebih banyak dan tentunya impornya lebih terkelola, khususnya nanti pembayaran-pembayaran terkait dengan kebutuhan untuk kewajiban pembayaran impor,” ujar dia pula.

Erwin menyampaikan, sinergi dan koordinasi merupakan komitmen yang telah disampaikan Gubernur BI untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini, kata dia, menjadi penting mengingat terdapat hal-hal yang bersifat struktural yang tidak hanya bisa dilakukan BI sendiri.